Seorang ibu memukul nyamuk di telapak kaki anaknya saat sedang tertidur. Kemudian tanpa sengaja ia melihat darah menetes dari tumit anaknya.
"Ya Allah, Ini kenapa kakimu nak" tanya ibu,
"...zzz ada apa ibu, kenapa mengejutkanku" tanya sang anak,
"ini" kata ibu, "oh itu biasa bu," jawab anak.
"pasti dari sepatunya" kata ibu sambil mengecek sepatu,
dan ternyata benar, ada satu butir kerikil tajam yang menyangkut di bagian tumit, pada saat dilihat.. solnya sudah mengikis sehingga apa pun yang dipijak bisa masuk ke dalam sepatu tersebut.
Meskipun begitu anak tersebut tak pernah menyerah untuk terus menorehkan prestasi kejuaraan matematika. Ia selalu bekerja keras hingga bangun tengah malam dan belajar sampai terkantuk-kantuk. Dan semua ini ia lakukan agar sang ibu bangga kepadanya. Ia tak peduli ocehan ataupun hinaan dari teman2nya yang sepelantaran sebab ia tak punya sosok ayah yang menemaninya bertumbuh sedari kecil.
Meskipun begitu anak tersebut tak pernah menyerah untuk terus menorehkan prestasi kejuaraan matematika. Ia selalu bekerja keras hingga bangun tengah malam dan belajar sampai terkantuk-kantuk. Dan semua ini ia lakukan agar sang ibu bangga kepadanya. Ia tak peduli ocehan ataupun hinaan dari teman2nya yang sepelantaran sebab ia tak punya sosok ayah yang menemaninya bertumbuh sedari kecil.
Sang ibu, tak henti-hentinya mengingatkan sang anak "Sebelum memulai sesuatu berdoa dulu nak,"
Ibu, walaupun banyak kerutan di wajah tak mengurangi sedikitpun cahayanya sebagai seorang pendoa untuk sang anak.
Suatu ketika anak tersebut merantau ke luar negeri, untuk bekerja dan juga menuntut ilmu. Tak disangka, dalam beberapa waktu kemudian ia kembali menemui ibunya yang sudah tua renta, dan ia menjadi orang berhasil yang membanggakan ibunya...
Langit mulai bergemuruh, datanglah seorang lelaki yang juga sudah tampak tua mengenakan baju yang lusuh, rupanya ia adalah ayah yang selama ini telah meninggalkan keluarganya sendiri. Ia mencoba berbicara kepada sang anak, akan tetapi sang anak menjauh darinya, sebab ia kecewa, mengapa saat ia kecil ditinggalkan bersama sang ibu, dan justru sang ayah malah memilih untuk pergi.
Ibu, walaupun banyak kerutan di wajah tak mengurangi sedikitpun cahayanya sebagai seorang pendoa untuk sang anak.
Suatu ketika anak tersebut merantau ke luar negeri, untuk bekerja dan juga menuntut ilmu. Tak disangka, dalam beberapa waktu kemudian ia kembali menemui ibunya yang sudah tua renta, dan ia menjadi orang berhasil yang membanggakan ibunya...
Langit mulai bergemuruh, datanglah seorang lelaki yang juga sudah tampak tua mengenakan baju yang lusuh, rupanya ia adalah ayah yang selama ini telah meninggalkan keluarganya sendiri. Ia mencoba berbicara kepada sang anak, akan tetapi sang anak menjauh darinya, sebab ia kecewa, mengapa saat ia kecil ditinggalkan bersama sang ibu, dan justru sang ayah malah memilih untuk pergi.
Bersambung.....
Komentar
Posting Komentar