Langsung ke konten utama

Menerapkan Rukun Iman ke 6 - Catatan untuk Diriku Sendiri

Mari kita renungkan sejenak

Pernahkah dirimu bermimpi, menjadi yang terbaik di suatu bidang ? matematika misalnya. Semakin dirimu berusaha sekuat tenaga untuk meraih prestasi sebaik mungkin, pasti ada saja hambatannya, atau terdapat kekeliruan yang kau buat, dan belum terlihat hasilnya. 

Pernahkah dirimu berusaha berjuang untuk seseorang, yang sebenarnya ia tidak benar-benar menghargai dirimu. Meski dari segala hal sudah kau usahakan untuknya. Tetapi ternyata, semua berakhir dengan sia-sia bahkan terjadi kesalahpahaman yang berujung perpecahan. 

Pernahkah dirimu menginginkan kehangatan di dalam rumah, tapi tak pernah kau dapatkan, seperti bertukar cerita dan canda tawa bersama orang-orang tersayang, dan pada akhirnya berakhir pada perpisahan.

Pernahkah dirimu bercita-cita bekerja sebagai eksekutif di perusahaan ternama dengan gaji yang fantastis. tetapi pada kenyataanya kau bekerja hari ini untuk makan esok hari saja sudah bersyukur.

Inilah yang dinamakan takdir. Takdir semua makhluk Allah sudah tertulis lauhul mahfudz dengan tinta-Nya. Meski ada takdir (muallaq) yang bisa diubah sesuai dengan usaha kita seperti berkerja, bergerak dan berdoa, tetapi apabila takdir sudah berkata lain, maka kita tidak bisa menolak, mau tidak mau takdir itulah yang terjadi dan yang harus dijalani. Seperti dalam lagu Quesera-sera, yang memiliki makna yang terjadi maka terjadilah, manusia tidak bisa memaksakan takdir yang ditentukan oleh Allah SWT karena yang menjadi tugas manusia adalah BERUSAHA, biarlah Allah yang menentukan akhirnya. Ketika kita semua sudah ikhlas dengan takdir hari ini, maka kita sudah berhasil menanamkan rukun iman -  6 di hati kita, dan pada saat itulah iman kita berada di puncak dan berusahalah terus mempertahankannya. Bahkan sekalipun iblis yang ditakdirkan untuk menggoda anak cucu Nabi Adam AS, tidak bisa sama sekali mengganggu seseorang yang sedang dalam keadaan ikhlas menerima qadha dan qadhar. Karena takdir yang terbaik adalah hari ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lack of empathy

A sinful human being who desperately wants to be forgiven by his Rabb sometimes has to stumble and fall many times. As a sinful human being, he desperately wants to be on the right path, straight and pleasing to Allah. Sometimes it is this lack of empathy that traps a person in the shackles of sin. However, he will not lose the spirit to continue returning to the right path even though he sometimes strays. "You say you pray? Why is your thinking so narrow... what kind of prayer do you perform? Worship is useless if you still hurt others. Don't you remember that you are also a sinner? Feeling better than others is also considered a sin. You hurt the hearts of innocent and pure children who do not yet understand the cruelty of this world. You are wasting the children of heaven? You are the one who loses out if you don't repent. Who are you? How dare you hurt Allah's child. He was brought to you to test where your sincerity." What you are doing is pointless if you st...

Energi dari sang Ilahi

Seorang ibu memukul nyamuk di telapak kaki anaknya saat sedang tertidur. Kemudian tanpa sengaja ia melihat darah menetes dari tumit anaknya.  "Ya Allah, Ini kenapa kakimu nak" tanya ibu,  "...zzz ada apa ibu, kenapa mengejutkanku" tanya sang anak,  "ini" kata ibu, "oh itu biasa bu," jawab anak.  "pasti dari sepatunya" kata ibu sambil mengecek sepatu,  dan ternyata benar, ada satu butir kerikil tajam yang menyangkut di bagian tumit, pada saat dilihat.. solnya sudah mengikis sehingga apa pun yang dipijak bisa masuk ke dalam sepatu tersebut. Meskipun begitu anak tersebut tak pernah menyerah untuk terus menorehkan prestasi kejuaraan matematika. Ia selalu bekerja keras hingga bangun tengah malam dan belajar sampai terkantuk-kantuk. Dan semua ini ia lakukan agar sang ibu bangga kepadanya. Ia tak peduli ocehan ataupun hinaan dari teman2nya yang sepelantaran sebab ia tak punya sosok ayah yang menemaninya bertumbuh sedari kecil.  Sang ibu, tak h...

FINDING FOR SINCERITY: A SPIRITUAL JOURNEY (MENCARI KEIKHLASAN: SEBUAH PERJALANAN SPRITUAL)

His shoes were worn out and stained with mud, but that didn't discourage him from continuing to walk in search of His light. Every moment, he struggled against his own ego. The shadow of his sinful self made him cry uncontrollably when he was alone with his God. Sometimes, his desires won over him, arrogantly saying, “I am indeed great and worthy of being considered above other humans.” And in fact, he was slipping into his obvious misguidance. Small shirk began to grow in his soul. He was unaware that the abyss of darkness that would blind his heart was just a step away, right in front of him. That is the result of following the voice of the devil to taint his thoughts and deeds, whispering continuously in his heart. The knowledge of self-control is indeed not easy to practice; it takes a lifetime to successfully learn it. Even until the end of his life, man still struggles with whispers that seem to challenge God's power. The trial given to him felt heavy to endure, to the po...